Pembangunan Indonesia Untuk Kesejahteraan Rakyat - makanikan

Pembangunan Indonesia Untuk Kesejahteraan Rakyat

makanikan

Pembangunan pada dasarnya merupakan proses pembaruan berkelanjutan untuk mencapai suatu peristiwa yang dianggap lebih baik. Bagi pemerintah Indonesia, tujuan dari pembangunan merupakan untuk tercapainya suatu tujuan nasional seperti yang tercantum terhadap pembukaan Undang­Undang Dasar tahun 1945. Dalam upaya untuk mewujudkan tujuan nasional itu, bangsa Indonesia semangat dalam melaksanakan pembangunan disegala bidang sektor kehidupan. Pembangunan itu sendiri dapat diartikan sebagai cara untuk meningkatkan, mengembangkan, serta memanfaatkan sumber daya yang ada, baik sumber daya alam atau sumber daya manusia, yang hasilnya ditujukan untuk kemakmuran sertakesejahteraan rakyat.

Pembangunan dilakukan melalui rangkaian investasi yang hanya dapat dilakukan dengan adanya dana yang besar. Salah satu sumber dana tersebut berasal dari pajak. Bonanza minyak sertagas (migas) memberi kontribusi yang signifikan bagi penerimaan negara dimasa lalu, masa kini tinggal catatan sejarah. Kondisi perekonomian nasional sejak adanya krisis moneter (krismon) pada tahun 1997 sampai sekarang masih belum mantap.

Pajak seharusnya lebih diberdayakan seiring dengan adanya peningkatan kegiatan sektor riil. Peranan pajak semakin besar sertajuga signifikan dalam menyumbangkan penerimaan negara, hal ini dapat terlihat dari terus berkembangnya pendapatan pemerintahan dari pajak dalam APBN, yang selanjutnya digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pembangunan ataupun untuk biaya rutin negara. Maka dari itu perlu diupayakan peningkatan kesadaran sertakepedulian masyarakat dalam membayar pajak. Segala upaya dapat dilakukan pemerintah dalam upaya peningkatan pendapatan negara dari pajak guna tercapainya sasaran pembangunan ekonomi yang disusun dengan semangat kebersamaan sertarasa percayadiri, namun tetap dengan mempertimbangkan kondisi rill yang telah, sedang atau akan dihadapi.

Pajak merupakan salah satu sumber pendapatan negara yang sangat penting bagi pelaksanaan serta peningkatan pembangunan nasional bertujuan untuk meningkatkan kemakmuran serta kesejahteraan masyarakat indonesia. Maka dari itu masyarakat diharapkan ikut berperan aktif dalam memberikan kontribusi bagi peningkatan pendapatan negara, sesuai dengan kemampuannya.

Semenjak reformasi perpajakan sampai sekarang perpajakan dijalankan dengan dikeluarkannya undang­undang perpajakan yang ada tahun 1983, sistem perpajakan berubah dari dulu office assessment sekarang menjadi self assessment. Dengan sistem yang baru ini, wajib pajak mempunyai hak serta kewajiban, baik dalam menghitung, membayar, serta melaporkan sendiri jumlah kewajiban perpajakan yang ada. Hal ini akan terlaksana dengan baik apabila wajib pajak patuh terhadap peraturan perpajakan sesuai undang­undang tahun 1983. Dilihat dari sudut pandang pemerintah, jika pajak yang di bayarkan oleh wajib pajak lebih kecil dari yang seharusnya dibayarkan, maka pendapatan negara dari sektor pajak akan menipis. Sebaliknya, dari sisi pengusaha atau wajib pajak, jika pajak yang dibayar lebih besar dari jumlah yang ada, akan mengakibatkan kerugian.

Tujuan pengusaha merupakan memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham atau investor, dengan cara memaksimalkan nilai perusahaan dengan cara memperoleh laba maksimum. Kinerja (performance) suatu perusahaan dapat menyaing iperusahaan lain dengan mengimplementasikan strategi yang berbeda, misalnya saja membuat produk serupa dengan harga yang lebih rendah; atau membuat sebuah produk sedemikian rupa sehingga membuat konsumen berminat untuk membayar harga melampaui biaya untuk menciptakan diferensiasi terhadap produk tersebut. Terdapat dua kiat bersaing itu menuntut strategi bisnis yang berbeda. Sasaran keunggulan biaya merupakan menjadi pemimpin biaya dalam industry. Bila sebuah perusahaan sudah dapat membangun sebuah posisi kepemimpinan biaya, maka perusahaan dapat menggunakan keunggulannya itu untuk mengalahkan pesaing melalui persaingan harga.

Keinginan masyarakat dimana pun masyarakat tinggal, tidak usah membayar pajak, jika tidak dapat membayar pajak sama sekali, apakah dapat dikurangi? Ini merupakan sifat dasar manusia, siapapun dia, apapun pangkat serta jabatannya. Manusia akan selalu berusaha bertindak efisien dalam seluruh kehidupannya, baik sebagai pribadi maupun sebagai pebisnis, mulai dari perusahaan berdiri, aktivitas manajemen dimulai, kegiatan operasional sehari­hari berjalan, serta dalam melakukan ekspansi atau reorganisasi, penciutan usaha, hingga terhadap perusahaan dilikwidasi.

Bahkan bagi wajib pajak yang sudah meninggal juga, wajib membayar pajak pribadinya, namun harta peninggalan atau warisannya masih merupakan subjek yang terkena pajak.

Tidak seorang pun senang membayar pajak. Asumsi Leon Yudkin (Harnanto, 1994) mempertegas hal tersebut jika tidak ada seorang pun senang membayar pajak:

Seseorang yang wajib pajak selalu berusaha untuk membayar pajak terutang sekecil mungkin, sepanjang hal itu dimungkinkan dalam undang­undang.

Asumsi ini dalam praktiknya banyak kamu jumpai serta merupakan suatu kecenderungan yang sulit dihilangkan, karena menyangkut aspek filosofis serta budaya individu.

Share with your friends

Give us your opinion